Rupanya si Bramanto ini masih belum bisa menghilangkan sensasi rangsangan akibat ‘tontonan’ gratis tadi.“Sorry Wid.. Bokepindo Sekarang pasti sebagian besar pahaku yang terbalut stoking nampak jelas dimatanya. Jakunnya terlihat bergerak menelan ludah. Gerakan itu sengaja aku lakukan dengan agak demonstratif. Ya suka juga”Wajahnya tampak memerah berkata begitu tapi aku melihatnya bagai gunung es yang mulai cair. Waktu sudah menjelang pukul delapan malam ketika Hendra pamit pulang.Aku sendiri masih asyik mengutak-atik internet explorer-ku sambil menikmati suasana lengang di kantor. Sebenarnya aku masih ingin ngobrol banyak sama Hendra tapi karena ada Bramanto si satpam aku jelas harus tetap menjaga image-ku sebagai atasan juga image Diana dan Nina di depan satpam itu seburuk apapun keadaan mereka dimata kita sekarang.Kita bertiga segera beranjak keluar dari situ.




















