Aku masih mematung. Bokepindo Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka? Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Creambath? Tapi ia masih berjongkok di bawahku.“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk Juniorku.Darahku mendesir. Bau tubuhnya tercium. Aku meringis menahan sensasasi yang waow..! Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Sudahlah. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Tetapi berlari. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku.




















