Kurasakan udara menjadi lebih sejuk. “Sorry ya, Roy..!” katanya merajuk. Bokep kring!” Suara telepon kuno itu seketika membuyarkan pikiranku. “Tapi kamu suka kan, Roy..?” Kata-katanya terdengar jelas setengah merayu. Kurasakan air itu mengucur deras dari organ tubuhku yang mengeras dan panjang. “Hei, Roy.. “Aku tak tahan melihat Si Tommy yang menonjol di balik celanamu.. Aku tak menyahut. Daya sedotnya begitu sempurna dan memiliki irama yang teratur dan konstan. Posisi tidurnya belum berubah. Kurasakan pinggangku sedikit linu. Jam dinding kamar itu sudah menunjukan pukul duabelas kurang sedikit. Mimpi yang konyol”, pikirku. Perlahan-lahan aku berjalan menuju kamar mandi. Aku masih belum dapat berkonsentrasi. Aku membasuh sedikit kepala kemaluanku dengan air kemudian mencuci tanganku di sebuah westafel. Anehnya, pengunjung bar yang lain tampak sama sekali tak peduli dengan aktivitas konyol yang berlangsung saat itu.




















