Tengah malam. Rasanya saya ingin bikin beliau nggak khawatir. Bokepindo Kamu perlu uang? Tokonya sedang sepi, tidak ada pembeli.“Juragan,” pinta saya. Aduhhh biyung. Apalagi kalau sudah pakai sanggul dan rias, wuihh. Saya pingsan di jalan. Tapi beliau pernah meminjamkan uang kepada Simbok, dan Simbok sempat mengembalikannya. Saya anak semata wayang, sekelüarga petani penggarap yang tak berpünya. Bedak saya sampai luntur dan nempel di seprai ranjang Juragan. Dia sendirian di depan toko, sementara anak buahnya sibuk di dalam dan di belakang. Awalnya kami berkeliling Ibukota, sekadar mencari keramaian di mana kami bisa memperoleh beberapa lembar rupiah demi menyambung hidup.Kami biasa mulai pagi-pagi, menjajaki jalan-jalan Ibukota untuk mencari orang-orang yang mau kami hibur dengan tarian kami.




















