Lalu, denhan hati-hati tubuhku menyusul menimpa ke atas tubuhnya. Mata Eksanti tidak berkedip sekejap pun membalas tatapan mataku. Bokep Tobrut Namun Eksanti masih ingin tetap merasakan orgasmenya, sehingga tubuhku serasa dikunci oleh kakinya yang melingkar di pinggangku. Mungkin karena lubang kewanitaannya tidak pernah lagi dimasuki batang kemaluan seperti milikku ini. “Aku tadinya nggak mau kita masuk ke kamar ini, karena aku takut kita nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya lagi, Mas”, tambahnya memberikan pengarahan kepadaku. Eksanti menurut. “Occhh..”, aku menjerit panjang. Aku melihat ekspressi wajah Eksanti pada permukaan cermin.Mata kami beradu pandang, sementara tanganku membelai-belai payudaranya yang mulai mengeras. “Kamu menyesal, Santi?”, ujarku sambil mencium pipinya. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Eksanti pada saat aku mengalami orgasme.Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Eksanti.




















