Dengan masih keadaan tertutup, bertopeng dan bersarung tangan, Mamat kembali mencari harta yang bisa digasak di kamar ini, “Lu senang-senang aja dulu, tar sudah capek baru gantian…” kata Mamat.Aku yang sedikit marah karena Dini yang berontak lalu mendekati Dini, ku tampar pipinya berkali-kali hingga kemerahan, dia pun menangis kencang. Tangisnya makin keras, aku pun segera mengalunginya belati dan menyuruhnya untuk tidak ribut. Bokepindo “Ah, jangan bercanda dong…” jawab Rianti sedikit tersenyum-senyum. Ku lihat dia memang Dini, wajahnya juga cantik seperti Rianti, badannya saja yang lebih mungil. Aku juga sudah cukup dekat dengan keluarganya, apalagi usaha ku dan Mamat sudah cukup lancar, tiap hari ramai dengan pelanggan. Gadis di dalam sana masih terlihat meronta berusaha melepaskan ikat di tubuhnya. Seperti masa-masa lalu kami, berpesta bir hingga habis puluhan botol.




















