Aku tahu di mana ruangannya. Bokepindo Ah masa bodo. Betul-betul keras. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Garis setrikaannya masih terlihat. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Ah sial. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Aroma asli seorang wanita. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Lalu dikocok-kocok sebentar. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun.




















