Dengan
rintihan panjang, Artika merasakan sensasi kuat menjalari sekujur
tubuhnya. Dia lalu membalikkan tubuh Artika yang putih
dan mengkilat kerena keringat lalu memaksanya menungging. Bokepindo Artika mengangguk.“Saya Artika, tolong jangan sakiti saya,” ujar Artika
terbata-bata di sela tangisnya.“Bagus,” Pria Papua itu tersenyum. Dia memakai baju lengan pendek putih dari bahan
satin dipadu dengan celana Jeans dan sepatu sneaker putih. Wewengko kemudian melucuti pakaiannya sendiri. Secara protokoler memang tidak ada masalah, tapi dia
melihat sesuatu yang ganjil. “Kalau begitu pimpinan
kami ingin bertemu denganmu.”Pria Papua itu lalu memberi perintah untuk mengikat tangan Artika dan
menutup matanya. Artika memandangi barang yang dilemparkan oleh wanita Papua itu,
pakaian yang dimaksud oleh wanita Papua itu hanya berupa
potongan-potongan bahan semacam kulit binatang. Sesaat kemudian Wewengko datang memasuki kamar
membawa makanan dan minuman. Pria itu hanya memakai celana panjang militer dan
sepatu
boot tentara dengan pistol terselip di pinggangnya.Pria itu




















