Aku tinggal bersama emakku yang aku panggil simbok dan nenekku yang aku panggil mbah. Bokepindo Mak kembali mendesah-desah dan menjerit kecil. “Udahlah turuti saja, jadi anak yang penurut, jangan suka terlalu banyak tanya,” nasihat mbahku. Selama ini aku tidur di balai-balai bambu di ruang tengah. Pelan-pelan aku tekan sehingga melesak lah seluruh penisku ke dalam memeknya.Awalnya aku menggenjot perlahan-lahan, tetapi seiring dengan erangan nenek aku jadi makin bersemangat menggenjot lebih cepat. Entah berapa lama diusap-usap, aku menunggu dengan persasaan tegang. Sementara mbok mencari nafkah dengan memburuh tani bersama mbah. Penisku jadi makin mengeras.Kadang-kadang aku berusaha menghindar karena malu, tetapi selalu dicegah oleh mbah dan menyuruh aku diam saja.




















