Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Vidio Porno Badannya berbalik lalu melangkah. Jari tangan mulai dingin. Tetapi, aku harus berani. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. “Ini..?” kataku. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Tunggu apa lagi. Bodoh, bodoh, bodoh. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Benarkan kesempatan itu lewat. Benarkan kesempatan itu lewat. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku.




















