Menantang dengan mata genit sambilmendekati pintu salon. Palingtidak aku dapat melihat leher yang basah keringatkarena kepayahan memijat. Bokep pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depanberdering. Ada sekatsekat,tidak tertutup sepenuhnya. Hah..? Begini saja daripada repotrepot.Anggap saja tiaptiap baju sama dengan jumlah kancingbajuku: Tujuh. Duduk di tepi dipan. Apakah perlu menhitungkancing. Aku perhatikania sejak bangkit hingga turun. Akudipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Kulihatdi bawahku ada kain, ya seperti saputangan.Itu kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika iamembersihkan paha bagian bawah. Garis setrikaannyamasih terlihat. Mobil melaju. Bicaraapa? kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap.




















