Aku hanya bisa mendengar dia mengumpat. Liang kemaluannya agak tersembunyi sekarang.“Kamu masih perawan nggak?” tanyaku ketus.“Iyah.. Bokep dimasukin…” kali ini pisau kutekan lagi.Darah segar mengalir perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah.Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya kemaluanku. Hehehe…Aku bergerak ke bawah, menjilati tiap inci sel kulitnya. Dia masih tetap membisu.“Ayo pulang…” ajakku. Segera kuambil dan kulempar ke lantai. baajingann.. yang benar aja tong…” ringisku karena saat orgasme tadi, kukunya yang lentik melukai pundakku.“Maaf… maaf tonhh…”Aku berhenti sesaat untuk memberinya waktu istirahat. Dia memandangku dengan gundah. biar kamu.. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku. Tapi, satu hal yang aku minta darimu… jangan membenciku untuk apa yang kuperbuat.











