“Aku duarius Mbak, bukan serius lagi”, kataku ngotot yg hanya dibalas dengan senyumannya. Bokepindo Kubaringkan badanku disebelah kirinya dan kuhadapkan tubuhku kearahnya. Rupanya Indah punya pikiran yg sama denganku. “Kenapa nggak mikir aku saja?”, tanyanya dengan senyum genit. “Nggak apa-apa Mbak, cuma mikir kerjaan besok”, jawabku santai. Aku masih cuek dengan keadaan sekelilingku tapi Indah agak gelisah dan mengeluhkan ajakanku ke kafetaria. “Sudah Zainal, ayo kembali ke kamar!”, ajaknya. “Iya, terus akan kusuruh hantu-hantu itu nyubitin seluruh tubuhmu tak tersisa”, balasnya dengan senyum kemenangan. “Mbak, pria yg duduk disana ada yg ngelihatin Mbak terus, sepertinya naksir, mau kukenalkan Mbak”, kataku sambil menghabiskan roti bakarku. “Tadi malam tangan kiri, sekarang kanan, Mbak kok suka sekali nyubit sih!”, keluhku. Sekalian saja aku pamitan padamu jika dalam beberapa hari kedepan kita tak bisa ketemu lagi.




















