Ah sial. Bokep Aku masih di atas angkot. Jari tangan mulai dingin. Wajahku merah padam. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Agar kejadian kemarin terulang. Tunggu apa lagi. Sudahlah. Dari atas: Turun. Aku tahu di mana ruangannya. Apalagi yang dapat tertinggal? Betul-betul keras. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”
“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan.










