Bila malam hanya diterangi lampu minyak karena belum terjangkau listrik. Bokepindo Karena kaki Bu Etik cukup berat, maka terpaksa kuangkat, akibatnya selimutnya mlorot dan pahanya yang mulus itu terpampang jelas di depanku. Semua bangun pagi dengan selamat tak kurang suatu apa. Genggaman tangannya semakin erat, tapi semakin lembut. Kesibukan yang menguras tenaga dan pikiran, ditambah dengan kesulitan yang selalu muncul, membuat kelompok kami semakin kompak. Setelah tidak terhalang sarung, telapak tangan Bu Etik semakin terasa panas menggairahkan. Aku tidak bangun, hanya membuka mata, dan meilhat pemandangan langka. Kami benar-benar sudah lelah lahir batin. Aku belum berani bereaksi, masih ragu-ragu dan juga kawatir kalau menyinggung perasaan beliau, jika kuhentikan.












