Dalam hatiku aku sadar bahwa aku menginginkan dirinya. Pukul enam, Bagas sudah menungguku di depan stand seorang diri. Bokep Bagas masih rajin menelponku, dan aku pun selalu menunggu telepon darinya.Tetapi aku tidak mau menaruh banyak harapanku kepada dia. Sembari berdiri kami pun kembali berbincang bincang, semakin malam kamipun semakin akrab.Karena banyak orang yang hadir, maka kami pun harus berdiri semakin dekat. Biarkan waktu yang membuktikan bahwa kami memang berjodoh. Berat rasa hati mendengar semuanya itu.Kalau waktu bisa berhenti berputar, membiarkan aku bersama Bagas tetap bersama. Dan mereka pun hanya bisa menebak-nebak sambil berbisik.Aku hanya tersenyum, sampai di depan pintu masuk salah satu dari mereka membiarkan aku masuk terlebih dahulu dan secara spontan aku mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia.Lama dia terdiam, sampai dia akhirnya mengejarku sambil meminta maaf, dan bermaksud meminta nomor




















