“Tangan atau, kamu yang terpesona oleh kecantikannya” sindir Dina. Bokepindo “Pa, Ma, Ananda boleh pulangnya belakangan?” tanya Ananda kepada kedua orang tuanya. “Diet, sejak awal perkenalan di cafetaria, hatiku sempat berdetak entah kenapa” terangnya kemudian. “Iya nih Din.. Pandanganku beradu dengan pandangan Ananda yang sedang serius menatapku dari mejanya, ketika di awal lagu sambil tersenyum aku memandangnya lembut. Dalam hati sempat aku bertanya, apakah yang telah di ceritakan Ananda kepada kedua orang tuanya tentang diriku. “Aku juga selalu berhayal tentang dirimu” jelasnya lagi. Setelah melewati moment sesaat yang merupakan kejutan dariku. Lepasin tangan Ananda” tegurnya mengingatkan. Seketika pandangan Ananda bersama kedua orang tuanya tertuju ke panggung. Di tengah asyiknya aku menikmati makanan, tiba-tiba telah berdiri temanku yang bernama Dina dan seorang yang telah membuatku terpaku sebelumnya.




















