Aku mengikutinya. Bokep indo Begini saja daripada repot-repot. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Satu dua, satu dua. Napasnya tersengal. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Ke bawah: Tidak. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Langkahku semangat lagi. Hah..? Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok.




















