Kami memang membawa buku kecil yang berisi terjemahan bahasa Indonesia – Mandarin. Pada waktu itu, dolar AS masih Rp 2.400. Bokep Dia kuminta tidur telentang beralas handuk dan aku menindihnya. Kalau langsung ke kamar, aku khawatir nanti kepergok teman-temen.Kami berempat minum kopi teh dan menyantap snack. Apa yang diomongi, aneh juga. Aku memang selalu mengantongi korek api hotel tempat kami menginap Paling tidak menunjukkan korek api ke supir taksi, pasti dia tahu alamat hotel kami..Kami memutuskan untuk keluar dari pintu depan Kota Terlarang yang langsung berseberangan dengan Lapangan Merah. Dia jago juga mengulum sehingga barangku tidak perlu lama-lama istirahat sudah bisa bangun lagi.Kamar mandi hotel cukup lega sehingga aku bisa menggelar handuk di lantai. Setelah jalan cukup jauh akhirnya kami sampai ke taxi shelter, dan ternyata di situ banyak sekali taksi.Entah bahasa




















