Pokoknya engga nyesel.”Dengan agak ragu (masa sih seratusan cewenya yahut?) akhirnya Aku meluncur juga ke sana. Bokeb “Buka semua dong,” pintaku. Ini memberiku kesempatan untuk mengerem nafsuku yang tadi hampir meledak. Aku berbalik. “Baru jam 7 masih sepi, entar malem rame,” jelasnya. “Telungkup dong Mas.”
Aku membalik tubuhku. Memang inilah maksudku dengan meminta pijat di punggung. Pelukan kuperkuat, tangan kiriku turun meremas pantatnya. Diurut dari belakang lutut ke atas. Dari depan tempat ini memang tak menyolok, hanya pintu kaca yang terbuka sebelah. “Udah itu?”
“Mas maunya apa?” tantangnya. Cobain aja,” Ada nada kurang senang yang tersirat. Dadanya? “Silakan pilih,” katanya sambil menutup kaca nako itu.




















