Sakit.” Tolakku.Namun percuma saja, karena apabila mbak nila sudah memberi komando, tak ada apapun yang bisa menghalanginya.Dan benar saja, tak lama mbak nila masuk kembali kekamarku membawa minyak pijat berwarna bening diatas mangkok kecil beserta botol botolnya.“Mana sini punggungnya, cepetan duduk.”“Ah nggamau ah mbak, aku gasuka bau minyak angin.”“Ini minyak zaitun kok, bukan minyak angin. Aku merasa kurang enak badan saat itu, apalagi ditambah beban kerja yang banyak membuat keadaanku makin drop. Bokep Tante Bibir mungilnya menyimpulkan senyum kecil sambil melirik kearahku setengah tersipu.Secara natural akupun menyeka keringat di dahi dan pipinya, mbak nilapun menyambut tanganku dan menggenggamnya mesra. Dalam hati aku terus menahan diri dan beristighfar, sembari terus kuingat ingat wajah mas sofyan dan gibran di benakku.




















