Akhirnya “itongku”-ku berhasil masuk. Lagian sampe rumahnya terlalu malem”, begitu alasan mbak Aufa. Bokepindo aku tidak tahan”“Terserah apa kata kamu, yg jelas jangan sampai terulang lagi. iya.. entahlah. harus kuapakan.. Kami kemudian naik angkot, dan sepanjang jalan Mbak Aufa diam saja. Di depanku terpampang paha mulus, karena dasternya sedikti tersingkap. Maklum, aku sudah berkeluarga dan punya seorang anak, tetapi mereka kutinggalkan di kampung karena istriku punya usaha dagang di sana.Tapi lama kelamaan semua itu membuatku bosan. Terus terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen bersetubuh dengan Mbak. karena aku masih ada rasa was-was, takut, kasihan… tapi sekali lagi godaan birahi memang dahsyat.Akhirnya pelan-pelan kujilati memek itu dengan rasa was-was takut Mbak Aufa bangun.




















